Minggu, 15 Juni 2014

Conflict in Ambon.

In 1950 Ambon was the center of an uprising against Indonesian rule, caused by the rebellion of Republic of the South Moluccas. Indonesia reasserted control just in few weeks.
In April and May 1958 during the Permesta rebellion in North Sulawesi, the USA supported and supplied the rebels. Pilots from a Taiwan-based CIA front organisationCivil Air Transport, flying CIA B-26 Invader aircraft, repeatedly bombed and machine-gunned targets in and around Ambon. On 27 April a CIA raid set fire to a military command post, a fuel dump and a Royal Dutch Shell complex. The attack on Shell was deliberate: the CIA had orders to hit foreign commercial interests in order to drive foreign trade away from Indonesia and undermine its economy. The next day, the same CIA pilot bombed Shell interests at Balikpapan in East Kalimantan on Borneo, which persuaded Shell to suspend tanker services from there.
On 28 April a CIA air raid damaged an Indonesian Army barracks next to a marketplace. On 30 April a CIA air raid hit the airstrip. On 7 May a CIA air raid attacked Ambon airstrip, seriously damaging a Douglas C-47 Sky train and an Indonesian Air Force North American P-51 Mustang and setting fire to a number of fuel drums. On 8 May a CIA B-26 tried to bomb an Indonesian Navy gunboat in Ambon harbour. Its bomb missed but it then machine-gunned the boat, wounding two crew. The Indonesian National Armed Forces reinforced Ambon City's anti-aircraft defences with a number of 12.7 mm (0.5 in) machine guns. On 9 May a CIA B-26 attacked the city again. The machine-gunners returned fire and an Indonesian Air Force P-51 Mustang chased the B-26, but it escaped.
On 15 May a CIA B-26 attacked a small ship, the Naiko, in Ambon Bay. Naiko was merchant ship that the Indonesian Government had pressed into military service, and she was bringing a company of Ambonese troops home from East Java. A CIA bomb hit the Naiko's engine room, killing one crew member and 16 infantrymen and setting the ship on fire. The B-26 then attacked Ambon city, aiming for the barracks. Its first bomb missed and exploded in a market-place next door. The next landed in the barracks compound but bounced and exploded near an ice factory. The B-26 in the May air raids was flown by a CAT pilot called Allen Pope. On 18 May Pope attacked Ambon again. First he raided the airstrip again, destroying the C-47 and P-51 that he had damaged on 7 May. Then he flew west of the city and tried to attack one of a pair of troop ships being escorted by the Indonesian Navy. Indonesian forces shot down the B-26 but Pope and his Indonesian radio operator survived and were captured. Pope's capture immediately exposed the level of CIA support for the Permesta rebellion. Embarrassed, theEisenhower administration quickly ended CIA support for Permesta and withdrew its agents and remaining aircraft from the conflict.
As part of the transmigration program in the 1980s, the Suharto government relocated many migrants, most of them Muslim, from densely overpopulated Java.
Between 1999 and 2002, Ambon was at the centre of sectarian conflict across the Maluku Islands. There was further religious violence in 2011.

From 1999 until mid-2002, Ambon was ripped apart by Christian-Muslim intercommunal violence. In Kota Ambon the first wave of attacks came in January 1999 with a largely Christian mob assault on the city’s main markets. A July 1999 reprisal torched predominantly Chinese businesses in the city centre. Island and city alike became polarised into Muslim and Christian zones. By late 2001, battered Kota Ambon looked like 1980s Beirut. During 2002 things improved markedly and the last significant disturbances were riots in 2004, though occasional provocations continue, including occasional sniping between police and army forces. Some burnt-out ruins remain, notably around Pattimura University in Rumah Tiga, but these are rapidly being rebuilt or swallowed by insatiable tropical weeds. By 2006 the island seemed gripped with a great optimism and visible economic resurgence. It’s as though everyone suddenly awoke from a bad dream to find themselves back in their busy little south-sea paradise.

Jumat, 06 Juni 2014

SOFTSKILL 6 : MAJAS


  • 1. Akulah sang Arwah. 2. Melintasi kota muram, aku pergi. 3. Melintasi kedukaan abadi, aku berlari. 4. Di sini, segala keraguan harus ditinggalkan. 5. Mereka tidak memahami apa yang akan terjadi … juga apa yang telah aku lakukan untuk mereka! 6. Dunia yang tak tahu berterima kasih! 7. Kegilaan membiakkan kegilaan. 8. Karena itulah, aku memanjat hingga setengah-jalan ke surga. 9. Tuntun aku, wahai Virgil, melintasi kehampaan. 10. O, orang-orang bebal berkepala batu! Tidakkah kalian melihat masa depan? Tidakkah kalian memahami kecemerlangan ciptaanku? Keharusan itu? 11. Bahkan, saat ini pun benda itu … menanti … bergolak di bawah air semerah-darah dalam laguna yang tak memantulkan bintang-bintang. 12. Tuhan yang terkasih , aku berdoa agar dunia mengingat namaku bukan sebagai pendosa keji, melainkan sebagai penyelamat agung sebagaimana Kau mengenal diriku yang sesungguhnya. Aku berdoa semoga Umat Manusia bisa memahami hadiah yang kutinggalkan. 13. Hadiahku adalah masa depan. 14. Hadiahku adalah keselamatan. 15. Hadiahku adalah Inferno. 16. Berlututlah di dalam mouseion kebijakan suci bersepuh emas, dan letakkan telingamu di tanah, dengarkan suara air menetes. 17. Ikuti jauh ke dalam istana tenggelam … karena di sini, dalam kegelapan, monster chthonic menanti, tenggelam dalam air semerah darah. 18. Tapi, inilah surgaku … rahim sempurna untuk anak ringkihku. Inferno. 19. Namun, masih ada mereka yang memburuku seperti anjing, dipicu oleh keyakinan picik bahwa aku orang gila. 20. Ada perempuan cantik berambut-perak yang berani menyebutku monster! 21. Seperti pastor-pastor buta yang melobi Copernicus, dia mencemoohku sebagai iblis, ketakutan karena aku telah melihat Kebenaran. 22. Karena terusir ke bawah-tanah, aku harus bicara pada dunia dari tempat yang jauh di dalam bumi, terasing dalam gua muram ini. 23. Aku merasa seperti bertemu dengan bintang rock secara pribadi. 24. Dalam kepompong pelukan Zobrist, aku merasa seakan segalanya baik-baik saja di dunia. 25. Sobatku terkasih, terima kasih karena telah membantuku menemukan jalan itu. Dunia juga berterima kasih padamu.
    Sumber : novel "INFERNO ( neraka ) karya Dan Brown"
  • 26. Gadis dan Troy Saling membenci sejak pertama kali mereka 'beradu pandang'. 27. Hujan bagai jeram liar yang tak Sabar Saling berlomba menuruni tebing curam. 28. Berselimut kabut tebal yang dengan mudah akan menyesatkan siapa pun yang bukan penduduk lokal desa kecil itu. 29. Gelegar petir yang tiba-tiba membelah ritme monoton derai hujan, mengeyakkan kesadaran samantha. 30. Kegelapan tetap tak beranjak. 31. Dengan meraba-raba, samantha berhasil mencapai pintu dapur yang menghadap halaman belakang. 32. Samantha kembali berlari terbirit-birit membelah lebatnya tirai hujan. 33. Seketika instingnya tergelitik. 34. Mendadak ia terkekeh-kekeh dengan sepasang mata menyipit mengawasi air dalam pinggan yang kini menjadi pusaran kecil. 35. Samantha mengerlingkan matanya menyadari kebenran kata-kata Lyubitshka. 36. Aku akan menyelamatkan jiwanya. 37. Kalian sepasang jiwa Malang yang patut mendapat pertolongan dariku. 38. Gumpalan tipis lebut bagai kapas nan putih itu terus turun perlahan lalu menempel di aspal. 39. Pucuk-pucuk cemara araukaria yang bertahtakan butir-butir putih. 40. Taman-taman yang menjelma hamparan permadani serba putih. 41. Pohon-pohon bereozka itu nampak begitu pasrah kepada takdir Tuhan seru sekalian alam. 42. Pohon-pohon pinus di hutan-hutan kecil di pinggir bandara Sheremetyevo menggigil kedinginan. 43. Orang-orang menutupi tubuhnya dengan pakaian tebal serapat-rapatnya. 44. Rumah-rumah dan gedung-gedung menutup pintu dan jendelanya rapat-rapat. Tak Boleh Ada sedikit pun angin dingin yang Boleh masuk. 45. Salju yang turun perlahan dan hawa dingin yang menggigit tulang, samasekalai tidak mengahalangi arus lalu lalang orang-orang di bandara Sheremetyevo. 46. Lelaki berhidung bengkok ke kiri itu terus memainkan kunci mobilnya. 47. Lalu terjadilah dialog dengan bahasa isyarat antara lelaki Rusia berhidung mencong ke kiri itu dengan pemuda berkacamata. 48. Aku sajja yang kurasa bandel darimu tidak sampai jepret guru. Kamu yang kecil, kerempeng kok tiba-tiba melakukan hal gila seperti itu. 49. Sampai beberapa teman perempuan kita menjuluki aku si bandit kecil berkaki satu. 50. Kelemahannku sejak aku mengerti wajah cantik, aku sangat rapuh berhadapan dengan wajah cantik.
    Sumber : Love, curse, & hocus-pocus. Karya Karla M. Nashar Bumi Cinta. Karya Habiburahman El Shirazy.
  • 51. Buah hati Garin Nugroho dan Riani Ikaswati ini sadar betul akan hal itu. 52. Persetujuan Linggarjati adalah titik pijak kehadiran Indonesia sebagai negara bangsa modern di dunia internasional. 53. Kini keberadaannya aman dibawah payung Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. 54. Ia andaikan dirinta bagai sekuntum bunga indah tapi akan layu, sementara pohonnya tetap tegak. 55. Tak ada waktu yang merangkak terlalu panjang. 56. Dia mengakui bahwa seni tradisi ini semakin luntur dan ditinggalkan orang. 57. Menjadi seniman di negeri ini tentulah seperti menapaki jalan kesunyian. 58. Sebagai ujung tombak dari republik ini, Jayakarta yang pernah dipanggil Batavia dan kini Jakarta, sebagau ibukota Republik Indonesia merupakan pusat pandang setiap warga. 59. Jakarta berwajah seribu. 60. Dibelah oleh Sungai Ciliwung yang airnya coklat dan kadangkala menghitam tercemar polusi. 61. Gedung Bataviasche Kunstkring kini kembali bersolek. 62. Dua meriam perunggu di kanan-kiri museum seolah-olah menyambut para pengunjung. 63. Bayangkan saja, betapa kaya akan sejarah jika kita bisa menggali arti dan makna yang terkandung dalam nisan mereka. 64. Maka seperti bayi, songket Minang terlahir kembali. 65. Menurut perantau asal Pariaman itu, songket sudah menjadi Buah Tangan khas Sumatera Barat yang memiliki nilai seni dan nilai jual yang tinggi. 66. Sifat itu bukan lahan subur untuk menumbuhkan organisasi dan koordinasi yang kuat. 67. Burung-burung hantu itu bukan apa-apa dibanding dengan kabar burung tang tersebar. 68. Derum rendah memecah kesunyian disekitar mereka. 69. Angin sepoi meniup pagar-pagar tanaman di Privet Drive yang rapi. 70. Sinar matahari merayap ke dalam ruang keluarga mereka. 71. Dia pikir mungkin dua tulang iganya sudah retak gara-gara menahan tawa. 72. Semakin malam badai mengamuk semakin hebat. 73. Berbagai pertanyaan meledak-ledak dalam kepala Harry seperti kembang api. 74. Kata Hagrid sembari menepakkan tangab ke dahinya dengan kekuatan yang cukup untuk membalikkan kereta kuda. 75. Dan dapat, sebagian karena takut, sebagian lagi karena inginkan cipratan kekuasaannya, karena dia memang punya kekuasaannya.
  • Sumber : Majalah Warisan Indonesia edisi tahun 2012. Harry Potter and the Sorcerer's Stone karya J.K. Rowling
  • 76.muke gileee, tampang kayak bakiak 77. ketawa ngangkang 78. sumpah ini buku seger banget 79. ini buku emang ngak ada matinye 80. gue masih sanggup aja kerja sama orang ngedongkolin waduk begitu 81. tapi congor ente kayak uler boa 82. ini kantor atau kandang ayam? 83. gue udah kayak anak ayam terjun bebas didandang sop 84. muka pak sugi kusem kayak keset kaki 85. badan lo kayak kampret bunting 9 86. itu idung kayak lobang knalpot atau kayak lobang kubur? 87. aduh bibir si boss kayak ikan cucut 88. pemasukan kantor gali lobang tutup lobang 89. api neraka akhirnya berkobar 90. boss kalo lagi marah kayak ikan buntal megap megap kayak kurang aer 91. kalo doi lagi nyanyi mulutnya kayak mau nelen kepala orang 92. dia lari tergopoh - gopoh 93. itu suami saya, bukan buto ijo 94. bilang aja keburu tengsin 95. andaikan saja mulutnya selongsong mesin tik jaman bahela, udah jebol tuh 96. masih ngak mudeng? 97. bulu ketek ente udah memfosil kalee 98. mulut ente kayak abis makan mayat 99. semenjak dia pakek behel giginya jadi kayak timbunan mentega 100. kepala apa lampu taman? muluss bener
  • Sumber : Novel 'My Stupid Boss 2'

Pesona sang Teknologi Modern.



Budaya kebaratan sudah menjamur hampir keseluruh Indonesia. Bahkan anak TK sudah menggunakan ponsel, entah untuk apa mereka mendapatkan ponsel itu. Lebih membingungkan lagi, mereka para orang tua dengan senang hati membelikannya dengan suka rela. Modernism, atau apalah itu, entah apa yang kalian pikirkan untuk itu. Praktiskah? Mempermudahkah?
Jika kalian yang telah membaca tulisan ini bertemu dengan saya, mungkin kalian akan melemparkan sesuatu kearah saya. Saya yakin itu. Saya salah satu menggemar setia barang-barang modern yang ada di Indonesia, tetapi perlu digarisbawahi juga bahwa saya adalah pengeluh hebat untuk hal yang sama. Saya mencintai produk-produk modern ini, namun saya juga membenci produk-produk modern yang 90% berasal dari barat ini. Itulah kenapa ada istilah ‘cinta itu setipis rasa benci’, dan istilah itu terbukti pada saya, mungkin kalian juga.
Saya mencintai produk modern ini karena mempermudah saya sebagai seorang mahasiswi, kebencian saya terhadap produk ini pun bukan tanpa alasan, melainkan karena produk yang terus bertambah menonjolkan kecanggihan teknologi barat. Seakan tiada henti mereka memproduksi teknologi baru, kesempatan untuk bernafas pun hampir tidak ada. Mereka para penggila teknologi modern, selalu berusaha agar tidak ketinggalan jaman. Saya yang tidak begitu mengerti teknologi modern dan tidak begitu mengikutinya pun bingun dengan tingkah mereka yang tak lain berada di sekelilingku.
Saya akui teknologi ini sangat membantu kita lebih mudah mengerjakan sesuatunya, karena saya pun merasakan manfaatnya sebagai manusia. Dampak yang luar biasa. Namun, apakah dengan terus mengikuti perkembangan teknologi modern yang terus mengalir bak air terjun Niagara ini akan berdampak baik bagi kita seutuhnya?
Dampak yang luar biasa ini pun dapat di realisasikan para pemuda bangsa dengan mulai memproduksi satu teknologi modern dengan berlebelkan Indonesia. Wow, luar biasa. Kebingungan saya bertambah melihat pesona sang teknologi yang dengan luar biasa mempengaruhi manusia mulai dari dampak baik hingga yang buruk skalipun.

Saya bersyukur bisa lahir di era modern dan bisa menikmatinya. Namun, sekedar saran kawan. Jangan biarkan mesin itu memperbudak dan mendikte setiap langkah yang harus kalian lakukan! Kalian adalah boss dari diri kalian sendiri, bukan mesin itu.

Hargai Mereka !


Indonesia tidak hanya kaya akan sumber daya alam yang begitu melimpah, namun juga potensi luar yang dimiliki oleh generasi muda pembangun bangsa yang tersebar hampir diseluruh 33 provinsi di Indonesia. Akan tetapi, keterbatasan materi dan kurangnya perhatian dari pemerintah kepada mereka yang berpotensi besar dalam pembangunan bangsa ini di masa depan membuat beberapa dari mereka hanya berdiam diri ditempat. Namun, tidak sedikit juga dari mereka yang berhasil membawa ‘suara’ mereka sampai ke telinga dunia. Usaha mereka tidak hanya bisa di hargai dengan penghargaan. Kepuasan batin karena bisa membawa nama baik Indonesia ke tingkat Dunia itu sangat luar biasa mereka rasakan.
Gayatri Wailissa adalah salah satu dari mereka yang berpotensi luar biasa. Dia menjadi peserta Duta Asean di tahun 2012-2013, dan terpilih untuk mewakili Indonesia dan mengikuti pertemuan anak di Thailand dalam CRC (Convention on the Right of the Child). Gayatri berasal dari Maluku, daerah bagian Timur Indonesia yang cendrung mengandalkan otot dibandingkan otak mereka. Gayatri telah membuktikan pernyataan sebelah mata yang di patenkan bagi mereka orang Timur. Dan tidak menutup kemungkinan anak seperti Gayatri masih tersembunyi bahkan di ujung timur maupun di ujung barat Indonesia.
Mirisnya perhatian dari pemerintah yang menganggap remeh, mereka yang berpotensi besar di daerah terpencil harus diminimalisir atau bahkan ditiadakan. Tidak hanya Gayatri, banyak anak hebat Indonesia lainnya bangga dapat mengharumkan nama Bangsa mereka tercinta ini dengan cara dan usaha mereka sendiri tentunya, disitulah titik kebanggaan dalam diri mereka. Berhasil seperti sekarang ini bukan berarti tidak ada tantangan atau bahkan halangan dan tembok besar yang menghalangi mereka. Upaya mereka harusnya bisa dijadikan inspirasi oleh anak-anak di seluruh Indonesia yang merasa memiliki potensi luar biasa agar berani unjuk gigi dan membangun bangsa ini. Seperti kata Bung Karno “Seribu orang tua hanya bisa bermimpi, tetapi seorang pemuda dapat mengubah dunia.”

Dengan munculnya wajah-wajah muda inspiratif ini akankah pemerintah masih menutup mata mereka? Semoga kejadian yang dialami oleh beberapa para Inspiratif muda ini bisa masuk dalam daftar ‘hal-hal yang perlu di perbaiki seorang Kepala Pemerintahan’ untuk menata bangsa ini jauh lebih baik dari sebelumnya.

Apa gambaran singkatmu tentang Indonesia kita ini?


            Sebagai manusia dan rakyat biasa, bahkan terlalu biasa untuk didengar suara saya ini. Dan sebagai manusia si pengkritik pula mungkin tulisan yang tidak ada artinya ini bisa kalian baca, yah namanya juga manusia hanya bisa memberi ‘kritikan’ tanpa tau apakah yang di kritik setuju dengan pendapat sebelah mata ini.
            Tulisan ini saya ketik saat membaca sebuah novel karya seorang novelis no.1 di Indonesia, Habiburrahman El Shirazy atau yang di akrab dipanggil Kang Abik. Saya bahkan belum menyelesaikan bacaan saya ketika memulai ketikan kritik tanpa arti ini. Tapi, saya sangat bersemangat untuk menulis tentang ini. Dari salah satu novel karya terbaiknya yang saya baca saat ini adalah BUMI CINTA.
            Saya tertarik pada percakapan antara Ayyas; seorang mahasiswa asal Indonesia yang sedang melakukan penelitian untuk menyelesaikan tesis di Rusia, dengan seorang Guru Besar Sejarah Asia Tengah, Profesor Abramov Tomskii. Dari percakapan mereka yang menyebutkan bahwasanya Jepang adalah Negara yang sangat bergantung pada Negara kita, yah Indonesia. Bahkan sang Profesor juga mengatakan; jika Negara kita akan di serang, Jepanglah Negara pertama yang akan membela Indonesia, kesimpulan tersebut di sebutkan berdasarkan prediksi data yang telah beliau kumpulkan.
            Dan pula penjelasan dari Profesor yang menyebutkan ‘Kalau Indonesia chaos, perekonomiannya ambruk, maka orang-orang Jepang tidak akan bisa makan. Indonesialah yang menghidupkan industri Jepang. Bahan-bahan baku industri Jepang paling besar didatangkan dari Indonesia. Batu bara, biji besi, tembaga, nikel, semua dari Indonesia. Dan hasil industri Jepang paling besar dibuang ke Indonesia. Coba kau hitung berapa ribu kendaraan roda dua setiap harinya yang dibeli orang Indonesia dari Jepang. Belum kulkas, mesin cuci, televisi, telepon, dan peralatan elektronik lainnya. Indonesia adalah tempat Jepang mengeruk uang, juga tempat Negara kapitalis lainnya mengambil keuntungan. Dua ratus tiga puluh juta adalah pasar yang sangat besar. Sekali lagi sangat besar.” (2010:80)
            Saya pun mulai berpikir, begitu banyak sindiran halus akan SDA yang ada di Indonesia tetapi kenapa terlihat seperti angin lembut yang menepuk mesra telinga para pemimpin kita? Tidak perlulah saya jelaskan panjang lebar maksut dari pernyataan sang Profesor dan ketertarikan saya untuk menulis ini. Bukan hanya dari novel yang saya baca ini, mungkin dari kalian juga tidak sengaja menemukan pernyataan yang menyatakan keindahan Negara kita namun ‘diperbudak’ oleh Negara lain, dari bacaan-bacaan lainnya. Saya akui saat mengetik tulisan ini, saya sedang berapi-api. Bukan karena bersemangat atau berbangga hati Negara kita di sanjung diberbagai kesempatan dalam sebuah maha karya seperti ini, akan tetapi saya berapi-api karena saya bingung akan kebebalan telinga para pemimpin kita. Apa sebenarnya yang mereka mau?

            Yah, kembali lagi ke awal ini hanyalah ketikan kritik tanpa arti dan tanpa maksut apa-apa. Saya hanya ini menulisnya, entah atas dasar apa. Tangan ini yang menari menyalurkan irama pemikiran tak seberapa dari otak ini. Masihkah kita dapat menyelamatkan kekayaan Negara kita ini? Sebelum habis di keruk para Negara kapitalis itu? Lantas, seperti apa bayangan anda tentang Negara kita ini? Prediksi kalian beberapa tahun kedepan mungkin. Yang jelas, doa terbaik saya bisikkan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk kembali meniupkan angin lembut yang akan menggerakan para pemimpin dan pejabat Negara kita ini, untuk mereka yang baik selalu dilindungi dan diberkahi untuk menjalankan tugas mulia mereka, dan untuk mereka yang kurang baik segera disadarkan dan bergerak menuju kebaikan demi bangsa, Negara, dan agama. AMIN.

Identitas kita sebagai bangsa yang besar.


Penampilan seseorang sering kali dihubungkan dengan identitas diri. Seseorang akan dinilai baik jika berpenampilan baik pula. Namun, dijaman sekarang penampilan tidak hanya menggambarkan identitas diri tetapi juga tingkat sosialnya. Jika Bung Karno berpendapat bahwa “Bangsa Indonesia perlu sebuah simbol kepribadian”, bagaimana dengan pendapat para pejabat tinggi kita di negri ini? Apakah penampilan kita sudah mencerminkan kepribadian dari Bangsa kita tercinta ini? Lantas kepribadian apa yang sudah kita persembahkan dan menjadi cerminan atas negri kita ini?

Batik yang kita kenal menjadi ikon bangsa ini telah dikenal dunia, tentu saja itu menjadi kebanggaan kita juga. Namun, melihat penampilan seharian bangsa kita oleh para penerus bangsa yang berbau western ini sama sekali tidak mencerminkan ciri khas dari bangsa ini. Bahkan ada yang berceloteh kalau memakai batik akan terlihat seperti orang jaman dulu dan ketinggalan jaman. Miris ketika harus mendengar beberapa pendapat yang menjatuhkan dan terdengar tidak merdu ini keluar dari mulut para penerus bangsa. Jika terus dibiarkan; kepribadian asli dari bangsa kita akan perlahan menipis dan terkikis seiring berjalannya waktu.

Malam

Keramaian malam
Seperti biasa, sangat menggiurkan mata.
Dan aku masih tetap saja dengan kekosongan hati duduk tepat ditengah-tengahnya.
Hiruk-pikuk mereka bahkan terekam rapih diotakku.
Tapi tak sedikitpun dicerna hati ini.
Keseimbangan hati dan otakku berdiri tegak layaknya menara pisa.
Kebencianku akan kepura-puraan membuat mata lebih pemilih dari sebelumnya.
Lingkunganku membuat aku mengutuk diriku sendiri.
Sunyinya malam
Menghantarkanku jauh kedalam duniaku.
Dunia yang tak ada seorang pun disana.
Hanya aku, sendiri.
Lantunan lagu menghiasi telinga.
Kala jari-jari ini menari indah menuturkan keluhan yang hanya dipahami Hujan.
Kutanyakan pada bulan malam ini, seperti apa rasanya disana?
Memperhatikan hampir sebagian bumi ini sampai petang menjemput?
Bintang tak kunjung muncul.
Tak ingin mengganggu curahan hatiku pada bulan.
Angin berhembus sangat lembut.
Biasanya yang paling kutunggu-tunggu; saat angin datang dan menari bersamaku.

Namun, angin malam hanya ini mampir memberi pelukan yang ku butuhkan.